Rabu, 03 Februari 2010

Panduan Skripsi STKIP YPM Bangko Tahun 2010

BAB I
PENDAHULUAN

A.Landasan Pemikiran

1.Statuta STKIP YPM Bangko antara lain menjelaskan bahwa tujuan STKIP YPM Bangko adalah:
a.Menghasilkan tenaga kependidikan yang professional, berdaya saing global, adaptif, dan responsive terhadap pembaharuan dan tuntutan zaman
b.Menghasilkan karya penelitian yang inovatif
c.Menghasilkan karya pengabdian yang bermanfaat bagi masyarakat
d.Terbentuknya jaringan kerjasama dengan stakeholder


2. Surat Keputusan Ketua STKIP YPM Bangko nomor: /10/047/SK/I/2003, tentang Pedoman Penyelesaian Skripsi.
3. STKIP YPM Bangko memiliki fungsi antara lain melaksanakan dan mengembangkan pendidikan tinggi serta melaksanakan penelitian dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
4. Mahasiswa sebagai bagian dari civitas akademika ikut bertanggungjawab dalam upaya memelihara, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan teknologi dan seni melalui kegiatan penelitian dan penyusunan karya ilmiah, terutama sebagai Skripsi saat mengakhiri studinya pada program dan jenjang tertentu di STKIP YPM Bangko.
5. Untuk melakukan kegiatan penelitian dan penyusunan karya ilmiah tersebut bagi mahasiswa perlu adanya buku Pedoman Penyusunan Skripsi.

B. Batasan dan Bentuk Skripsi

1. Batasan
Skripsi merupakan karya tulis mahasiswa yang menunjukkan kulminasi proses berpikir ilmiah, kreatif, integratif, dan sesuai dengan disiplin ilmunya yang disusun untuk memenuhi persyaratan kebulatan studi dalam program Strata 1 (S1) Program Kependidikan yang ada di lingkungan STKIP YPM Bangko
2. Bentuk
Skripsi adalah laporan hasil penelitian yang ditulis oleh mahasiswa sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar kesarjanaan.

C. Tujuan Penulisan Skripsi
Tujuan Skripsi adalah untuk memberi kesempatan kepada mahasiswa agar dapat memformulasikan ide, konsep, pola pikir, dan kreativitasnya yang dikemas secara terpadu dan komprehensif serta dapat mengkomunikasikan dalam format yang lazim digunakan di kalangan masyarakat ilmiah.

D. Etika Penyusunan Skripsi
Skripsi yang berkualitas merupakan tuntutan setiap lembaga pendidikan tinggi. Untuk menghasilkan Skripsi tersebut diperlukan kriteria ilmiah, persyaratan administratif, dan etika penyusunan Skripsi.
Ketaatan yang tinggi terhadap norma etis dalam perencanaan dan pelaksanaan penyusunan Skripsi merupakan hal yang sangat penting. Untuk itu penyusun Skripsi perlu menghargai integritas dan humanitas kajian yang mencakup tiga bidang pokok :
1. Proteksi subjek dari hal-hal yang merugikan baik fisik, mental dan sosial :
2. Menghargai hak-hak subjek untuk mengetahui hakikat dan tujuan penelitian, dan hak untuk memberikan persetujuan berpartisipasi ;
3. Menghargai rahasia pribadi subjek.
Pertimbangan-pertimbangan etis yang perlu dipenuhi oleh penyusun Skripsi adalah:
1. Kejujuran Akademik
a. Mencantumkan secara jelas semua sumber yang dijadikan acuan atau dimanfaatkan dalam kajian, dan memperoleh izin penggunaan apabila diper-lukan.
b. Penyusun Skripsi harus melaporkan kajiannya sesuai dengan hal yang sebenarnya.

2. Keterbukaan
Bersedia menerima kritik atau masukan untuk peningkatan kualitas hasil kajiannya.

3. Tidak memaksa dan merugikan subjek
Apabila subjek kajian adalah manusia, partisipasi subjek harus bersifat sukarela. Subjek tidak boleh dipaksa, disinggung perasaannya, atau dirugikan secara material atau nonmaterial.

4. Menjaga kerahasiaan subjek
Menjaga keamanan dan keselamatan subjek dengan tidak mempublikasikan nama dan identitas subjek yang dikaji, kecuali seizin yang bersangkutan.

BAB II
PENYUSUNAN DAN PENYELESAIAN
PROPOSAL PENELITIAN DAN SKRIPSI

A. Proposal Penelitian

I. Penyusunan Proposal Penelitian

Proposal penelitian terdiri atas 3 (tiga) bagian disusun dengan sistematika sebagai berikut: a) bagian awal, b) bagian isi, dan c) bagian akhir.
1. Bagian awal
a. Halaman judul dicetak pada kertas HVS warna putih
b. Halaman persetujuan pembimbing
Halaman ini memuat bukti persetujuan administratif dan akademik dari pembimbing I dan pembimbing II.

2. Bagian Isi
Bagian isi terdiri atas: 1) BAB I PENDAHULUAN, 2) BAB II KAJIAN TEORI ATAU KAJIAN PUSTAKA, dan 3) METODE PENELITIAN. Proposal penelitian disajikan dalam bentuk bab, sub-bab, dan anak sub-bab. Uraian bagian tersebut sebagai berikut.
1) BAB I PENDAHULUAN
Bab pendahuluan berisi hal-hal sebagai berikut.
A. Latar Belakang Masalah
Menjelaskan rasional atau justifikasi penelitian dilihat dari latar belakang pemilihan permasalahan yang diteliti.
B. Identifikasi Masalah
Berisi kajian berbagai masalah yang relevan dengan ruang lingkup dan kedalaman masalah serta variabel yang akan diteliti yang tidak dibuat dalam kalimat tanya.
C. Pembatasan masalah
Harus dibuat dengan alasan ilmiah sesuai dengan ruang lingkup penelitian yang akan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek-aspek metodologis, kelayakan di lapangan, dan keterbatasan yang ada pada penulis tanpa mengorbankan kebermak-naan arti, konsep, atau judul yang diteliti.
D. Perumusan Masalah
Dinyatakan dalam kalimat tanya atau pernyataan yang lugas dan jelas.
E. Tujuan penelitian
Menyatakan target penelitian yang akan dicapai yang merupakan penye-lesaian, permasalahan yang diajukan.
F. Kegunaan Penelitian
Menjelaskan manfaat temuan penelitian, baik secara teoritis maupun praktis.


2) BAB II KERANGKA TEORI ATAU KAJIAN PUSTAKA
Bab ini berisi bagian-bagian sebagai berikut.
a) Deskripsi teori dan penelitian yang relevan
- Grand theory/konsep dan elaborasi teori yang berkaitan dengan perumusan masalah yang diajukan
- Unsur/indikator teori yang berkaitan dengan variabel yang akan diteliti
- Verifikasi antara teori yang berkaitan dengan variabel yang diteliti
- Penelitian relevan yang menunjukkan bahwa skripsi yang ditulis terkait dengan hasil penelitian terdahulu.
b) Kerangka Pikir
Kerangka pikir berisi gambaran pola hubungan antar variabel atau kerangka konsep yang akan digunakan untuk menjelaskan masalah yang diteliti, disusun berdasarkan kajian teoretik.
c) Hipotesis penelitian
Hipotesis penelitian dirumuskan secara singkat, lugas, dan jelas yang dinyatakan dalam kalimat pernyataan. Dikatakan demikian agar hipotesis dapat diuji sesuai dengan teknik analisis yang telah ditentukan. Tidak semua penelitian me-merlukan rumusan hipotesis, sehingga bagian ini harus disesuaikan.
Catatan :
Penelitian yang menggunakan pendekatan selain kuantitatif tidak mendasarkan desain penelitiannya pada teori, sehingga kajian pustaka membahas penelitian atau konsep yang relevan yang sudah ada dalam literatur.

3) BAB III METODE PENELITIAN

Metode penelitian berisi hal-hal sebagai berikut.

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan perlu dinyatakan secara jelas. Definisi Operasional variabel Penelitian. Bagian ini menjelaskan definisi operasional variabel penelitian.


B. Populasi dan Sampel Penelitian
Bagian ini menjelaskan wilayah generalisasi atau populasi penelitian, penetapan jumlah sampel, teknik pengambilannya, serta rasionalnya.

C. Instrumentasi dan Teknik Pengumpulan Data
Bagian ini menjelaskan semua alat ukur yang digunakan, teknik dan proses pengumpulan data, sumber data serta teknik penentuan kualitas instrument (validitas, reliabilitas, indeks kesulitan, daya beda, dan sebagainya).

D. Teknik Analisis Data
Bagian ini menjelaskan berbagai teknik analisis yang dipilih beserta rasionalnya.
Catatan :
Untuk penelitian yang bercorak kualitatif harus dijelaskan pemilihan setting penelitian, rencana untuk memasuki fase-fase observasi, teknik triangulasi data dan kemungkinan tema-tema yang akan mendasari pengelompokan dan analisis datanya.
3. Bagian Akhir
Bagian akhir proposal penelitian memuat daftar pustaka.
Daftar pustaka berisikan daftar nama buku, jurnal, laporan penelitian, dan sumber lain yang digunakan. Penulisan daftar pustaka dibahas pada Bab IV Bagian 2.e. tentang penulisan daftar pustaka.

II. Permohonan dan Pelaksanaan Seminar Proposal
a. Mahasiswa yang telah selesai menyusun Proposal Penelitian dan mendapat persetujuan dari Para Pembimbing segera menghubungi Jurusan/Program Studi untuk penetapan jadual seminar proposal dengan membawa syarat-syarat sebagai berikut.
1) Kuitansi Pembayaran SPP terakhir
2) Persetujuan Pembimbing
3) Naskah Proposal Penelitian yang sudah diketik rangkap 5 (lima) dijilid sederhana (soft cover)

b. Ketua Jurusan/Program studi atas usulan Puket I mengusulkan susunan Dewan Penguji Seminar Proposal untuk mendapatkan SK Ketua. Dewan penguji tersebut berjumlah 4 (empat) orang dengan susunan sebagai berikut :
1) Ketua merangkap anggota (Pembimbing I);
2) Sekretaris merangkap anggota (Pembimbing II);
3) Anggota penguji 2 (dua) orang.

c. Penyelenggaraan Seminar Proposal diatur oleh jurusan/prodi melalui Puket I, dilaksanakan pada jam dan hari kerja selama 70-100 menit. Berita Acara Seminar Proposal dibuat rangkap 5, masing-masing untuk : Jurusan/prodi, Penasehat Akademik, Pembimbing, dan mahasiswa yang bersangkutan.

d. Format Penilaian Seminar Proposal

e. Penilaian Seminar Proposal terdiri dari penilaian dokumen dan penilaian ujian lisan dengan rincian sebagai berikut.

2. Penilaian Seminar Proposal
Penilaian Seminar Proposal Penelitian terdiri dari penilaian dokumen dan penilaian ujian lisan dengan rincian sebagai berikut.

bersambung ............

Selengkapnya...

Jumat, 29 Januari 2010

Menyusun Proposal Penelitian

Dalam mempersiapkan atau menyusun proposal penelitian, terlebih dahulu perlu kiranya diketahui dua metode penelitian. Metode itu adalah metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kualitatif. Hal ini berkaitan dengan proposal penelitian yang akan disusun. Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukakan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat postpositifisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah ( sebagai lawannya adalah eksperimen ) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data secara trianggulasi ( gabungan ), analisis data bersifat induktif/kualitatif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi.


A. PROPOSAL PENELITIAN KUANTITATIF

Rancangan atau proposal penelitian merupakan pedoman yang berisi langkah-langkah yang akan diikuti oleh peneliti untuk melakukan penelitiannya. Dalam menyusun rancangan penelitian, perlu diantisipasi tentang berbagai sumber yang dapat digunakan untuk mendukung dan menghambat terlaksananya penelitian.
Penelitian dilakukan berangkat dari adanya suatu permasalahan. Masalah merupakan “penyimpangan” dari apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi, penyimpangan antara rencana dengan pelaksanaan, penyimpangan antara teori dengan praktek, dan penyimpangan antara aturan dengan pelaksanaan. Masalah itu muncul pada ruang ( tempat ) dan waktu tertentu.
Rancangan penelitian harus dibuat secara sistematis dan logis sehingga dapat dijadikan pedoman yang betul-betul mudah diikuti. Rancangan penelitian yang sering disebut proposal penelitian paling tidak berisi komponen utama, yaitu : permasalahan, landasan teori, pengajuan hipotesis, metode penelitian, organisasi dan jadwal penelitian. Proposal penelitian kuantitatif dikemas dalam sistematika seperti berikut :

SISTEMATIKA PROPOSAL PENELITIAN KUANTITATIF

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Batasan Masalah
D. Rumusan Masalah
E. Tujuan Penelitian
F. Hipotesis Penelitian
G. Kegunaan Hasil Penelitian

II. KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori
B. Kerangka Berfikir

III. PROSEDUR PENELITIAN

A. Jenis dan Metode Penelitian
B. Populasi dan Sampel
C. Instrumen Penelitian
D. Teknik Pengumpulan Data
E. Teknik Analisa Data

IV. ORGANISASI DAN JADWAL PENELITIAN

A. Organisasi Penelitian
B. Jadwal Penelitian

V. BIAYA YANG DIPERLUKAN


I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada bagian ini berisi tentang sejarah dan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi pada suatu obyek penelitian, tetapi dalam peristiwa itu, sekarang ini tampak ada penyimpangan-penyimpangan dari standard yang ada, baik standart yang bersifat keilmuan maupun aturan-aturan. Oleh karena itu dalam latar belakang ini, peneliti harus melakukan analisis masalah, sehingga permasalahan menjadi jelas. Melalui analisi masalah ini, peneliti harus dapat menunjukkan adanya suatu penyimpangan yang ditunjukkan dengan data dan menuliskan mengapa hal ini perlu diteliti.

B. Identifikasi Masalah

Dalam bagian ini perlu dituliskan berbagai masalah yang ada pada obyek yang diteliti. Semua masalah dalam obyek, baik yang akan diteliti maupun yang tidak akan diteliti sedapat mungkin dikemukakan.
Untuk dapat mengidentifikasi masalah dengan baik, maka peneliti perlu melakukan studi pendahuluan ke obyek yang diteliti, melakukan observasi dan wawancara ke berbagai sumber sehingga semua permasalahan dapat diidentifikasikan.
Berdasarkan berbagai permasalahan yang telah diketahui tersebut, selanjutnya dikemukakan hubungan satu masalah dengan masalah yang lain. Masalah yang akan diteliti itu kedudukannya dimana diantara masalah yang akan diteliti. Masalah apa saja yang diduga berpengaruh positif dan negatif terhadap masalah yang diteliti. Selanjutnya masalah tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk variabel.

C. Batasan Masalah

Karena adanya keterbatasan, waktu, dana, tenaga, teori-teori dan supaya penelitian dapat dilakukan secara lebih mendalam, maka tidak semua masalah yang telah diidentifikasikan akan diteliti. Untuk itu maka peneliti memberi batasan, dimana akan dilakukan penelitian, variabel apa yang akan diteliti, serta bagaimana hubungan variabel satu dengan variabel yang lain. Berdasarkan batasan masalah ini maka dapat dirumuskan masalah penelitian.

D. Rumusan Masalah

Setelah masalah yang akan diteliti itu ditentukan (variabel apa saja yang akan diteliti dan bagaimana hubungan variabel satu dengan yang lain) dan supaya masalah dapat terjawab secara akurat, maka masalah yang akan diteliti itu perlu dirumuskan secara spesifik. Sebaiknya perumusan masalah itu dinyatakan dalam kalimat pertanyaan.

E. Tujuan Penelitian

Tujuan dan kegunaan penelitian sebenarnya dapat diletakkan diluar pola pikir dalam merumuskan masalah. Tetapi keduanya ada kaitannya dengan permasalahan, oleh karena itu dua hal ini ditempatkan pada bagian ini. Tujuan penelitian disini tidak sama dengan tujuan yang ada pada sampul skripsi atau tesis, yang merupakan tujuan formal ( misalnya untuk memenuhi slah satu syarat untuk mendapat gelar sarjana ) tetapi tujuan disini berkenaan dengan tujuan peneliti dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian berkaitan erat dengan rumusan masalah yang dituliskan. Misalkan rumusan masalahnya : Bagaimanakah tingkat disiplin guru di sekolah A ? maka tujuan penelitiannya adalah: ingin mengetahui seberapa tinggi tingkat disiplin guru di sekolah A. Kalau rumusan masalahnya: apakah ada pengaruh latihan terhadap produktifitas kerja pegawai ? maka tujuan penelitiannya adalah: ingin mengetahui apakah pengaruh latihan terhadap produktifitas kerja pegawai, dan kalau ada seberapa besar. Rumusan masalah dan tujuan penelitian ini jawabnya terletak pada kesimpulan penelitian.

F. Kegunaan Hasil Penelitian

Kegunaan hasil penelitian merupakan dampak dari tercapainya tujuan. Kalau tujuan penelitian dapat tercapai dan rumusan masalah dapat terjawab secara akurat maka sekarang kegunaannya apa. Kegunaan hasil penelitian ada dua gal yaitu:
a. Kegunaan untuk mengembangkan ilmu / kegunaan teoritis.
b. Kegunaan praktis, yaitu : membantu memecahkan dan mengantisipasi masalah yang ada pada obyek yang diteliti.


II. LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teori

Deskripsi teori adalah teori-teori yang relevan dan dapat digunakan untuk menjelaskan variabel yang akan diteliti, serta sebagai dasar untuk memberi jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang diajukan ( hipotesis ) dan penyusunan instrumen penelitian.
Teori-teori yang digunakan bukan sekedar pendapat dari pengarang, pendapat penguasa, tetapi teori yang betul-betul telah teruji kebenarannya secara empiris. Disini juga diperlukan dukungan hasil penelitian yang telah ada sebelumnya yang ada kaitannya dengan variabel yang diteliti. Jumlah teori yang dikemukakan tergantung pada variabel yang diteliti ada lima, maka jumlah teori yang dikemukakan juga ada lima.

B. Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang begaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.
Kerangka berpikir akan menjelaskan secara teoritis pertautan antara variabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar variabel independen dan dependen. Bila dalam penelitian ada variabel moderator dan intervening, mak juga perlu dijelaskan, mengapa variabel itu ikut dililbatkan dalam penelitian. Pertautan antara variabel tersebut, selanjutnya dirumuskan kedalam bentuk paradigma penelitian. Oleh karena itu pada setiap penyusunan paradigma penelitian harus didasarkan pada kerangka berfikir.
Kerangka berfikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam penelitian tersebut berkenaan dua variabel atau lebih. Apabila penelitian hanya membahas sebuah variabel atau lebih secara mandiri, maka yang akan dilakukan peneliti disamping mengemukakan deskripsi teoritis untuk masing-masing variable, juga argumentasi terhadap variasi besaran variable yang diteliti.
Penelitian yang berkenaan dengan dua variabel atau lebih, biasanya dirumuskan hipotesis yang berbentuk komparasi maupun korelasi. Oleh karena itu dalam rangka menyusun hipotesis penelitian yang berbentuk komparasi maupun korelasi maka perlu dikemukakan kerangka berfikir.
Kerangka berfikir yang dihasilkan dapat berupa kerangka berfikir yang asosiatif / korelasi maupun komparatif / perbandingan. Kerangka berfikir asosiatif dapat menggunakan kalimat : jika begini maka akan begitu ; jika komitmen kerja guru tinggi, maka produktifitas lembaga sekolah akan tinggi pula atau jika pengawasan dilakukan dengan baik (positif), maka kebocoran anggaran akan berkurang (negatif).


C. Hipotesis Penelitian

Karena hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian yang diajukan, maka titik tolak untuk merumuskan hipotesis adalah rumusan masalah dan kerangka berfikir. Kalau ada rumusan masalah penelitian: Kalau rumusan masalah: adakah pengaruh kepemimpinan terhadap motivasi kerja pegawai, kerangka berfikir “jika kepemimpinan baik, maka motivasi kerja akan tinggi” maka hipotesisnya adalah : ada pengaruh yang tinggi/rendah dan signifikan kepemimpinan terhadap motivasi kerja pegawai.
Bila rumusan masalah berbunyi adakah “perbedaan kinerja sekolah antara sekolah yang menggunakan teknologi tinggi dan rendah ?” selanjutnya kerangka berfikir berbunyi: “Karena sekolah A menggunakan teknologi tinggi, maka kinerjanya lebih tinggi bila dibandingkan dengan sekolah B yang penggunaan teknologinya rendah.” Maka hipotesisnya adalah: “Terdapat perbedaan kinerja yang signifikan antara sekolah A dan B, atau kerja sekolah A lebih tinggi bila dibandingkan dengan sekolah B.”

III. PROSEDUR PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Utnuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis, diperlukan metode penelitian. Untuk itu dibagian ini perlu ditetapkan metode penelitian apa yang akan digunakan, apakah metode survey atau eksperimen.

B. Populasi dan Sampel

Dalam penelitian perlu dijelaskan populasi dan sampel yang dapat digunakan sebagai sumber data. Bila hasil penelitian akan digeneralisasikan (kesimpulan data sampel yang dapat diperlakukan untuk populasi) maka sampel yang digunakan sebagai sumber data harus representatif dapat dilakukan dengan cara mengambil sampel dari populasi secara random sampai jumlah tertentu.

C. Instrument Penelitian

Penelitian yang bertujuan untuk mengukur suatu gejala akan menggunakan instrumen penelitian. Jumlah instrument yang akan digunakan tergantung pada variabel yang diteliti. Bila variabel yang diteliti jumlahnya lima, maka akan menggunakan lima instrument. Dalam hal ini perlu dikemukakan instrument apa saja yang akan digunakan untuk penelitian, skala pengukuran yang ada pada setiap jenis instrument, prosedur pengujian validitas dan reliabilitas instrumen.

D. Teknik Pengumpulan Data

Yang diperlukan disini adalah teknik pengumpulan data mana yang paling tepat, sehingga betel-betul didapat data yang valid dan reliabel. Jangan semua teknik pengumpulan data (angket, observasi, wawancara) dicantumkan kalau sekiranya tidak dapat dilaksanakan. Selain itu konsekuensi dari mencantumkan tiga teknik pengumpulan hdata itu adalah : setiap teknik pengumpulan data yang dicantumkan harus disertai datanya. Memang untuk mendapatkan data yang lengkap dan obyektif penggunaan berbagai teknik sangat diperlukan, tetapi bila satu teknik dipandang mencukupi maka teknik yang lain bila digunakan akan menjadi efesien.


E. Teknik Analisa Data

Untuk penelitian dengan pendekatan kuantitatif, maka teknik analisis data ini berkenaan dengan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan pengujian hipotesis yang diajukan. Bentuk hipotesis mana yang diajukan, akan menentukan teknik statistik mana yang digunakan. Jadi sejak membuat rancangan maka teknik analisis data ini telah ditentukan. Bila peneliti tidak membuat hipotesis, maka rumusan masalah penelitian itulah yang perlu dijawab. Tetapi kalau hanya rumusan masalah itu dijawab, maka sulit membuat generalisasi, sehingga kesimpulan yang dihasilkan hanya dapat berlaku untuk sampel yang digunakan, tidak dapat berlaku untuk populasi.


IV. ORGANISASI DAN JADWAL PENELITIAN

A. Organisasi Penelitian

Bila penelitian dilaksanakan oleh tim/kelompok maka perlu adanya organisasi pelaksana penelitian. Minimal ada ketua yang bertanggung jawab dan anggota sebagai pembantu ketua.

B. Jadwal Penelitian

Setiap rancangan penelitian perlu dilengkapi dengan jadwal kegiatan yang akan dilaksanakan. Dalam jadwal berisi kegiatan apa saja yang akan dilakukan, dan berapa lama akan dilakukan.

Selengkapnya...

Rabu, 27 Januari 2010

Jenis dan Karakteristik Media

A.Taksonomi

Dalam pengertian teknologi pendidikan, media atau bahan sebagai sumber belajar merupakan komponen dari sistem instrusional di samping pesan, orang, teknik dan peralatan. Dari usaha penataan yang timbul yaitu pengelompokan atau klasifikasi menurut kesamaan atau karakteristiknya. Beberapa contoh usaha ke arah taksonomi media tersebut antara lain :

1)Taksonomi menurut Rudy Bretz

Bertz mengidentifikasikan ciri utama dari media menjadi tiga unsur pokok, yaitu : suara, visual dan gerak. Visual dibedakan menjadi tiga yaitu garis ( line graphic ) dan simbol yang merupakan suatu kontinum dari bentuk yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan. Bretz juga membedakan antara media siar ( telecommunication ) dan media rekam ( recording )sehingga terdapat 8 klasifikasi media, yaitu :


☼ Media audiovisual gerak
☼ Media audiovisual diam
☼ Media audio semi-gerak
☼ Media visual gerak
☼ Media visual diam
☼ Media semi-gerak
☼ Media audio
☼ Media cetak

2) Hirarki media menurut Duncan

Dalam penyusunan taksonomi media menurut hirarki pemanfaatan untuk pendidikan, Duncan ingin mensejajarkan biaya investasi, kelangkaan dan keluasan lingkup sasarannya disatu pihak dan kemudahan pengadaan serta penggunaan, keterbatasan lingkup sasaran dan rendahnya biaya di lain pihak dengan tingkat kerumitan perangkat medianya dalam satu hirarki.

3) Taksonomi menurut Briggs

Briggs mengidentifikasi 13 macam media yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar, yaitu :
☼ Obyek
☼ Model
☼ Suara langsung
☼ Rekaman audio
☼ Media cetak
☼ Pembelajaran terprogram
☼ Papan tulis
☼ Media transparansi
☼ Film rangkai
☼ Film bingkai
☼ Film
☼ Televisi
☼ Gambar

4) Taksonomi menurut Gagne

Gagne membuat 7 macam pengelompokan media yaitu :
☼ Benda untuk didemontrasikan
☼ Komunikasi lisan
☼ Media cetak
☼ Gambar diam
☼ Gambra gerak
☼ Film bersuara
☼ Mesin belajar

5) Taksonomi menurut Edling

Menurut Edling media merupakan bagian dari enam unsur rangsangan belajar, yaitu dua untuk pengalaman audio meliputi kodifikasi subyektif visual dam kodifikasi obyektif audio, dua untuk pengalaman visual meliputi kodifikasi obyektif audio dan kodifikasi obyektif visual dan dua pengalaman belajar 3 dimensi meliputi pengalaman langsung dengan orang dan pengalaman langsung dengan benda-benda.

6) Pengelompokan menurut Schramm ( 1977 )

Schramm membedakan media menjadi media rumit dan mahal ( big media ) dan media sederhana dan murah ( little media ). Ia juga mengelompokan media menurut daya liputnya menjadi media massal, media kelompok dan media individual.

7) Pengelompokan menurut Allen

Allen berusaha menghubungkan fungsi media dengan tujuan belajar yang hendak dicapai.

B. Karakteristik

Karakteristik media dapat dilihat menurut kemampuan membangkikan rangsangan indera penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecaoan, maupun penciuman atau kesuaiannya dengan tingkatan hierarki belajar. Untuk tujuan praktis karakteristik beberapa jenis media yang lazim digunakan dalam kegiatan belajar mengajar antara lain :
1. Media grafis
Media grafis berfungsi menyalurkan pesan dari sumber ke penerima. Saluran yang dipakain menyangkut indera penglihatan. Pesan yang akan dismapaikan dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual. Beberapa jenis media grafis antara lain :

Gambar / foto
Kelebihan media gambar :
1. Sifatnya konkret
2. gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu
3. dapat mengatasi batasan pengamatan
4. dapat menperjelas suatu masalah
5. harganya murah dan gampang didapat
Kelemahan media gambar :
1. hanya menekankan persepsi indea mata
2. benda yang terlalu kompleks kurang efektif untuk kegiatan pembelajaran
3. ukurannya sangat terbatas

Syarat - syarat media gambar / foto yang baik digunakan sebagai media pendidikan :
1. Autentik
2. Sederhana
3. Ukuran relatif
4. Mengandung gerak atau perbuatan
5. Gambar dapat mencapai tujuan
6. Gambar harus bagus dari sudut seni dan sesuai denga tujuan pembelajaran.

Sketsa
Sketsa adalah gambar yang sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagan-bagan pokoknya tanpa detail. Sketsa dapat dibuat secara cepat sementara guru menerangkan dapat pula dipakai untuk tujuan tersebut.

Diagram
Sebagai suatu gambar sederhana yang menggunakan garis-gasris dan simbol-simbol, diagram atau skema menggambarkan struktur dan obyek secara garis besar. Beberapa ciri diagram yang perlu diketahui :
1. Diagram dapat bersofat simbolis dan abstrak sehingga kadang-kadang sulit dimengerti.
2. Untuk dapat membaca diagram seorang harus mempunyai latar belakang tentang apa yang didiagramkan.
3. Walaupun sulit dimengerti, karena sifatnya yang padat, diagram dapat memperjelas arti.
Diagram yang baik sebagai media pendidikan adalah yang :
1. Benar, digambar rapi, diberi titel, label dan penjelasan-penjelasan yang perlu.
2. Cukup besar dan ditempatkan secara strategis
3. Menyusunnya disesuaikan dengan pola membaca yang umum satu dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah.

Bagan / chart
Bagan atau chart ternasuk media visual. Fungsinya yang pokok adalah menyajikan ide-ide atau konsep-konsep yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis atau lisan secara visual. Sebagai media yang baik, bagan haruslah :
1. dapat dimengerti anak
2. sederhana dan lugas, tidak rumit atau berbeli-belit
3. diganti pada waktu-waktu tertentu agar selain tetap up to date juga tak kehilangan daya traik.

Grafik ( graph )
Sebagai suatu media visual grafik adalah gambar sederhana yang menggunakan titik-titik , garis atai gambar. Fungsi grafik adalah untuk menggambarkan data kuantitatif secara teliti, menerangkan perkembangan atau perbandingan sesuatu obyek atau peristiwa yang saling berhubungan secara singkat dan jelas. Beberapa manfaat / kelebihan grafik sebagai media :
1. Grafik bermanfaat sekali untuk mempelajari dan mengingat data-data kuantitattif dan hubungan-hubungannya.
2. Grafik dengan cepat memungkinkan kita mengadakan analisa, interpretasi dan perbandingan antara data-data yang disajikan baik dalam hal ukuran, jumlah, pertumbuhan dan arah.
3. Penyajian data grafik jelas, cepat, menarik, ringkas dan logis.

Syarat-syarat grafik sebagai media pendidikan :
1. jelas untuk dilihat oleh seluruh kelas
2. hanya menyajikan satu ide setiap grafik
3. ada jarak/ruang kosong antara kolom-kolom bagiannya
4. warna yang digunakan kontras dan harmonis
5. berjudul dan ringkas
6. sederhana ( simplicity )
7. mudah dibaca ( legibility )
8. praktis, mudah diatur ( manageability )
9. menggambarkan kenyataan ( realisme )
10. menarik ( attractiveness )
11. jelas dan tak memerlukan informasi tambahan ( appropiateness )
12. teliti ( accuracy )

Macam-macam grafik :
1. Grafik garis ( line graph )
2. Grafik batang
3. Grafik lingkaran ( circle graph atau pie graph )
4. Grafik gambar ( pictorial graph )

Kartun
Kartun adalah suatu gambar komunikasi grafis yang interpretatif dan menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan sesuatu pesan secara cepat dan ringkas atau sesuatu sikap terhadap orang situasi, atau kejadian-kejadian tertentu.

Poster
Syarat-syarat poster yang baik :
1. Sederhana
2. menyajikan satu ide untuk mencapai satu tujuan pokok
3. berwarna
4. slogannya ringkas dan jitu
5. tulisannya jelas
6. motif dan desain bervariasi

Peta dan globe
Peta dan globe berfungsi untuk menyajikan data-data lokasi. Secara khusus memberikan informasi tentang :
1. keadaan permukaan bumi, daratan, sungai-sungai, gunung dan bentuk-bentuk daratan serta peraiaran lainnya.
2. tempat-tempat serta arah dan jarak dengan tempat yang lain
3. data-data budaya dan kemasyarakatan seperti populasi atau pola bahasa/adat istiadat
4. data-data ekonomi, seperti hasil pertanian, industri atau perdagangan internasional.

Kelebihan peta dan globe dipakai sebagai media pendidikan :
1. memungkinkan siswa mengerti posisi dan kesatuan politik, daerah, kepulauan dan lain-lain.
2. merangsang minat siswa terhadap penduduk dan pengaruh-pengaruh geografis.
3. memungkinkan siswa memperoleh gambaran tentang imigrasi dan distribusi penduduk, tumbuh-tumbuhan dan kehidupan hewan, serta bentukbumi yang sebenarnya.

Papan flanel / flanel board
Papan flanel adalah media grafis yang efektif untuk menyajikan pesan-pesan tertentu kepada sasaran tertentu.

Papan buletin ( bulletin board )
Papan buletin langsung ditempeli dengan gambar-gambar atau tulisan-tulisan, berfungsi menerangkan sesuatu, memberitahukan kejadian dalam waktu tertentu.

2. Media Audio

Media audio berkaitan dengan indera pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam lambang-lambang auditif, baik verbal maupun non verbal. Beberapa jenis media audio antara lain :

a. Radio

Radio mempunyai beberapa kelebihan, yaitu :
1. harganya relatif murah dan variasi programnya lebih banyak daripada TV.
2. sifatnya mudah dipindahkan ( mobile )
3. jika digunakan bersama-sama alat perekam radio bisa mengatasi problem jadwal.
4. dapat mengembangkan imajinasi anak
5. dapat merangsang partisipasi aktif pendengar
6. dapat memusatkan perhatian pada kata-kata, bunyi dan artinya.
7. siaran lewat suara terbukti tepat/cocok untuk mengajarkan musik dan bahasa.
8. dapat mengerjakan hal-hal tertentu secara lebih baik
9. mengatasi ruang dan waktu jangkauannya luas.

Kelemahan media radio antara lain :
1. sifat komunikasinya hanya satu arah
2. biasanya sisran disentralisasikan sehingga guru tak dapat mengontrol
3. penjadwalan pelajaran dan siaran sering menimbulkan masalah.

b. Alat perekam pita magnetik

Disebut juga magnetic tape recording adalah salah satu media pendidikan yang tak dapat diabaikan untuk menyampaikan unformasi, karena mudah menggunakan. Beberapa kelebihan alat perekam :
1. selain merekam, menampilkan rekaman dan menghapusnya.
2. dapat diputar berulang-ulang tanpa mempengaruhi volume
3. rekaman dapat dihapus secara otomatis dan pitanya dapat dipakai lagi
4. dapat digunakan sesuai jadwal yang ada
5. dapat menyajikan kegiatan-kegiatan
6. menimbulkan berbagai kegiatan ( diskusi, dramatisasi dan lain-lain )
7. memberikan efisiensi dalam pelajaran bahasa

kelemahan-kelemahannya sebagai berikut :
1. daya jangkaunya terbatas
2. biaya pengadaannya mahal bila untuk sasaran yang banyak.

c. Laboratorium bahasa

Laboratorium bahasa adalah alat untuk melatih siswa mendengar dan berbicara dalam bahasa asing dengan cara menyajikan materi pelajaran yang disiapkan sebelumnya.

3. Media Proyeksi Diam

a. Film bingkai

Film bingkai adalah suatu film berukuran 35 mm, yang biasanya dibungkus bingai berukuran 2 x 2 inci terbuat dari karton atau plastik. Ada juga yang berukuran eversized (2 x 2 inci) dan lantern ( 3 x 4 inci ). Beberapa keuntungan penggunaan film bingkai sebagai media pendidikan antara lain :
1. materi pelajaran yang sama dapat disebarkan ke seluruh siswa secara serentak.
2. perhatian anak-anak dapat dipusatkan.
3. fungsi berfikir dirangsang dan dikembangkan
4. berada di bawah kontrol guru
5. baik untuk menyajikan berbagai bidang
6. penyimpanan sangat mudah
7. dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan indera.
8. dapat menjadi media yang sangat efektif
9. mudah direvisi/diperbaiki, baik visual mauoun audionya
10. media yang relatif sederhana/mudah
11. program dibuat dalam waktu singkat.

Kelemahan film bingkai :
1. gambar-gambar mudah dilepas dan mudah hilang
2. hanya mampu menyajikan obyek-obyek secara diam.
3. penggunaan slide selalu menggunakan ruang gelap
4. pembuatan jauh lebih mahal


b. Film rangkai

Film rangkai memiliki dua ukuran gambar yaitu gambar unggal ( single frame ) dengan ukuran ¾ x 1 inci dan gambar ganda ( double frame ) dengan ukuran 1 ½ x 1 inci. Kelebihan film rangkai sebagai media pendidikan :
1. kecepatan penyajian dapat diatur
2. semua kelebihan non projected still picture dimiliki film rangkai
3. dapat mempersatukan berbagai media
4. cocok untuk mengajarkan keterampilan
5. urutan gambar sudah pasti
6. penyimpanannya mudah
7. produksi dalam jumlah besar relatif mudah
8. dapat untuk belajar kelompok
c. Media transparansi

Disebut juga OHT ( overhead transparancy ) atau dengan nama perangkat kerasnya OHP ( overhead projector ) yaitu media visual proyeksi yang dibuat di atas bahan transparan biasanya film acetate atau plastik. Kelebihan media transparansi antara lain :
1. Gambar yang diproyeksikan lebih jelas.
2. guru sambil mengajar dapat berhadapan dengan siswa
3. benda-benda kecil dapat diproyeksikan dengan meletakkan di atas OHP
4. memungkinkan penyajian diskriminasi warna dan menarik minat siswa
5. tak memerlukan tenaga bantuan operator
6. lebih sehat
7. praktis dapat digunakan untuk semua ukuran ruangan
8. menghemat tenaga dan waktu
9. dibawah kontrol guru
10. dapat dipakai sebagai petunjuk sistematika penyajian guru.
11. dapat menstimulasi efek gerak yang sederhana

Beberapa kelemahan / keterbatasan media transparansi antara lain :
1. memerlukan peralatan khusus OHP
2. memerlukan waktu, usaha dan persiapan yang baik
3. menuntut cara kerja yang sistematis
4. siswa cenderung pasif.

d. Proyektor tak tembus pandang ( opaque projector )

Proyektor tembus pandang adalah alat untuk memproyeksikan bahan bukan transparan, tetapi bahan-bahan tidak tembus pandang ( opaque). Kelebihan proyektor tak tembus pandang ialah :
1. dapat digunakan untuk hampir semua bidang studi
2. dapat memperbesar benda kecil menjadi sebesar papan

e. Mikrofis

Mikrofis atau microfiche adalah lembaran film transparan terdiri dari lambang-lambang visual ( grafis maupun verbal) yang diperkecil sedemikian rupa sehingga tak dapat dibaca dengan mata telanjang. Keuntungan mikrofis adalah :
1. mudah di copy cetak dan dipublikasikan dengan biaya relatif murah
2. bisa diproyeksikan ke layar lebar
3. ringkas, hemat dan praktis untuk dikirim
4. informasi kepustakaan yang terletak dibagian atas lembaran mudah diidentifikasi.

Kelamahannya antara lain :
1. pembuatan masterna mahal
2. mudah hilang
3. sulit memfilenya



f. Film

Film merupakan media yang amat besar kemampuannya dalam membantu proses, belajar mengajar. Keunggulan media film sebagia berikut :
1. suatu denominator yang umum
2. sangat bagus menerangkan suatu proses
3. dapat menampilkan kembali masa lalu dan menyajikannya
4. dapat mengembara dengan lincah dari suatu ke negara lain
5. dapat menyajikan teori dan praktek
6. dapat menggunakan teknik-teknik seperti warna, gerak lambat, animasi dsb.
7. memikat perhatian anak
8. dapat mengatasi keterbatasan daya indera
9. dapat merangsang atau memotivasi kegiatan anak

g. Film gelang ( film loop )

Film gelang adalah jenis media yang terdiri dari film berukuran 8 mm atau 16 mm yang ujung-ujung saling bersambung, sehingga film ini akan berputar terus berulang-ulang kalau tidak dimatikan. Kelebihan film gelang antara lain :
1. ruangan tak perlu digelapkan
2. dapat berputar terus berulang-ulang
3. baik sekali untuk menunjukkan suatu periode yang pendek.
4. mudah diintegrasikan ke pelajaran
5. siswa dapat memakai sendiri
6. dapat dihentikan setiap saat

h. Televisi ( TV )

Televisi adalah media yang menyampaikan pesan-pesan pembelajaran secara audio-visual dengan disertai unsur gerak. Kelebihan televisi adalah :
1. TV dapat menerima, menggunakan dan mengubah atau membatasi semua bentuk media lain.
2. merupakan medium yang menarik
3. dapat memikat perhatian sepenuhnya
4. mempunyai realitas dari film
5. sifatnya langsung dan nyata
6. horison kelas dapat diperlebar
7. hampir semua mata pelajaran dapat di-TV-kan
8. dapat meningkatkan pengetahuan

Keterbatasan media TV :
1. harga TV relatif mahal
2. sifat komunikasinya satu arah
3. jadwal siaran dan jadwal pelajaran seringkali sulit disesuaikan
4. program diluar kontrol guru
5. gambar relatif kecil

Selain program TV, dikenal juga program Televisi Siaran Terbatas ( TVST ). Kelebihan TVST sebagai media pendidikan antara lain :
1. dapat dikontrol guru
2. dapat memanfaatkan sumber-sumber daerah dan kepentingan
3. memberi kesempatan yang sama kepada muid-murid sekolah
4. membuat guru menjadi bagian suatu tim belajar mengajar.
5. membantu mengatasi problem kekurangan guru bermutu
6. dapat melatih guru meningkatkan kemampuan profesi

i. Video

Media audio-visual yang menampilkan gerak, semakin lama semakin populer di masyarakat. Kelebihan video :
1. dapat menarik perhatian untuk periode-periode yang singkat
2. dengan alat perekam pita video sejumlah besar penonton memperoleh informasi dari ahli-ahli/spesialis
3. menghemat waktu
4. bisa mengamati lebih dekat objek yang sedang bergerak

j. Permainan dan simulasi

Permainan ( games ) adalah setiap kontes antara para pemain yang berinteraksi satu sama lain dengan mengikuti aturan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu pula. Setiap permainan mempunyai empat komponen utama yaitu :
1. adanya pemain
2. adanya lingkungan dimana para pemain berinteraksi
3. adanya aturan main
4. adanya tujuan tertentu yang ingin dicapai

Simulasi adalah suatu model hasil penyederhanaan suatu relaitas. Permainan simulasi mempunyai kelebihan antara lain :
1. sesuatu yang menyenangkan dan menghimbur
2. memungkinkan partisipasi aktif siswa
3. memberikan umpan balik
4. memungkinkan penerapan konsep-konsep
5. bersifat luwes
6. dapat dengan mudah dibuat


Selengkapnya...

Media Pendidikan dan PBM

Proses Belajar Mengajar

Selain proses belajar mengajar, istilah yang sering dipakai adalah kegiatan belajar mengajar. Dalam dua istilah tersebut kita melihat adanya dua proses atau kegiatan, yaitu : proses / kegiatan belajar dan proses / kegiatan mengajar. Kedua proses tersebut seolah-olah tak terpisahkan satu dengan yang lain. Orang menganggap ada proses belajar tentu ada proses mengajar.

Proses belajar dapat terjadi kapan saja dan di mana saja terlepas dari ada yang mengajar atau tidak. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya. Belajar adalah proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat nanti. Salah satu pertanda bahwa bahwa seorang telah belajar adalah adanya perubahan ingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor) maupun menyangkut nilai dan sikap (afektif).


Jika disimpulkan, seseorang telah belajar kalau terdapat perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tersebut hendaknya terjadi sebagai akibat interaksi dengan lingkungannya, tidak karena proses pertumbuhan fisik atau kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan. Perubahan tersebut harus bersifat relatif permanen, tahan lama dan menetap, tidak berlangsung sesaat saja.

Guru bukan satu-satunya sumber belajar, walaupun tugas, peranan dan fungsinya dalam proses belajar mengajar sangat penting. Kalau ditilik dari sejarah perkembangan profesi guru, tugas mengajar sebenarnya adalah pelimpahan dari orang tua karena tidak mampu lagi memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap tertentu sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi dan perkembangan masyarakat serta budaya pada umumnya, berkembang pulalah tugas dan peranan guru, seiring dengan berkembangnya jumlah anak yang memerlukan pendidikan. Dahulu pada zaman Socrates, ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada siswanya adalah hasil penemuan atau daya fikir Socrates sendiri. Perkembangan selanjutnya membuktikan bahwa situasi semacam itu tak mungkin untuk mempertahankan.

Istilah proses belajar mengajar atau kegiatan belajar mengajar hendaklah diartikan bahwa proses belajar dalam diri siswa terjadi baik karena ada yang secara langsung mengajar (guru, instruktur) ataupun secara tidak langsung. Belajar tak langsung artinya siswa secara aktif berinteraksi dengan media atau sumber belajar yang lain. Guru atau instruktur adalah hanyalah satu dari begitu banyak sumber belajar yang dapat memungkinkan siswa belajar. Selain itu tutor atau tokoh-tokoh masyarakat atau orang-orang yang mempunyai keterampilan dan kemampuan tertentu di masyarakat juga merupakan sumber belajar jenis orang ( people ). Jenis sumber yang lain adalah pesan ( message ) yaitu ajaran atau informasi yang akan dipelajari atau diterima oleh siswa/peserta latihan. Bidang studi atau materi-materi latihan jenis ini adalah sebagai berikut :
1. Bahan ( material ). Jenis ini biasa disebut dengan istilah perangkat lunak atau software. Di dalamnya terkandung pesan-pesan yang perlu disajikan dengan baik bantuan alat penyaji maupun tanpa alat penyaji. Contoh : buku, modul, majalah, transparansi OH, film bingkai, audio.
2. Alat ( device ), biasa disebut dengan istilah hardware atau perangkat keras dan digunakan untuk menyajikan pesan. Contoh : proyektor film, film bingkai, overhead proyektor, video tape dan cassette recorder, pesawat radio dan TV.
3. Teknik adalah prosedur rutin atau acuan yang disiapkan untuk menggunakan alat, bahan, orang dan lingkungan untuk menyajikan pesan, misalnya teknik demontrasi, kuliah, ceramah, tanya jawab, pengajaran terprogram dan belajar sendiri.
4. Lingkungan atau setting, memungkinkan siswa belajar.

Bahan dan alat yang kita kenal dengan istilah software dan hardware adalah merupakan media pendidikan.

1. Media Pendidikan

Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Medoe adalah perantara pesan pengirim ke penerima pesan. Batasan tentang media :
• AECT ( Association of Education and Communication Technology / assosiasi teknologi dan komunikasi pendidikan ) di Amerika membatasi bahwa media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi.
• Gagne ( 1970 ) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dpat merangsang untuk belajar.
• Briggs ( 1970 ) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa unuk belajar, contonya berupa buku, kaset, film dan lain-lain.
• NEA ( National Education Association / asosiasi pendidikan nasional ) memberikan pengertian bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatan.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar dan dibaca. Dan media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.

2. Perkembangan Media Pendidikan

Pada mulanya hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru ( teaching aids ). Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual, misalnya gambar, model, obyek dan alat lain-lain yang dapat memberikan pengalaman konkret, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan retensi belajar siswa. Edgar Dale mengadakan klasifikasi pengalaman menurut tingkat dari yang paling konkret ke yang paling abstrak. Klasifikasi tersebut kemudian dikenal dengan nama kerucut pengalaman (cone of experience).

Pada akhir tahun 1950 teori komunikasi mulai mempengaruhi pengguanaan alat bantu audio visual, sehingga selain sebagai alat bantu media juga berfungsi sebagai penyalur pesan atau informasi belajar. Pada tahun 1960 – 1965 orang mulai memperhatikan siswa sebagai komponen yang penting dalam proses belajar mengajar. Pada saat itu teori tingkah laku ( behaviorism theory ) ajaran B.F. Skinner mulai mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran. Menurut teori ini mendidik adalah mengubah tingkah laku siswa. Media instruksional yang terkenal yang dihasilkan teori ini ialah teching machine dan programmed instruction..

Pada tahun 1965 – 1970, pendekatan sistem ( system approach ) mulai menampakan pengaruhnya dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Hal ini mendorong digunakannya media sebagai bagian integral dalam proses pembelajaran. Setiap program pembelajaran harus direncanakan secara sistematis dengan memusatkan perhatian siswa.

3. Proses Belajar Mengajar sebagai Proses Komunikasi.

Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran / media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran / media dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Pesan yang akan dikomunikasikan adalah isi ajaran atau didikan yang ada dalam kurikulum. Sumber pesannya bisa guru, siswa, orang lain ataupu penulis buku dan produser media. Salurannya adalah media pendidikan dan penerima pesannya siswa atau juga guru.
Proses penuangan pesan ke dalam simbol-simbol komunikasi disebut encoding, selanjutnya penerima pesan menafsirkan simbol-simbol komunikasi tersebut sehingga diperoleh pesan. Proses penafsiran simbol-simbol komunikasi yang mengandung pesan-pesan tersebutu disebutu decoding. Ada beberapa faktor yang menjadi penghambat atau penghalang proses komunikasi. Penghambat tersebut biasa dikenal dengan istilah barriers atau noises. Selain itu hambatan kultural seperti perbedaan adat-istiadat, norma-norma sosial, kepercayaan dan nilai-nilai panutan dan hambatan lingkungan yaitu hambatan yang ditimbulkna situasi dan kondisi sekitar.

Media pendidikan sebagai salah satu sumber belajar yang dpat menyalurkan pesan sehingga membantu mengatasi hal tersebut. Perbedaan gaya belajar, minat, intelegensi, keterbatasan daya indera, cacat tubuh atau hambatan jarak geografis, jarak waktu dan lain-lain dapat dibantu diatasi dengan pemanfaatan media pendidikan.

4. Kegunaan Media Pendidikan dalam Proses Belajar Mengajar.

Secara umum media pendidikan mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai berikut :
1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlelu bersifat verbalitis ( dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka ).
2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, misalnya :
a. Obyek terlalu besar bisa digantikan dengan realita, gambar, film bingkai atau model.
b. Obyek yang kecil dibantu dengan proyektor mikro, film bingkai, film atau gambar.
c. Gerak terlalu lambat atau terlalu cepat dapat dibantu dengan timelapse atau high-speed photography.
d. Kejadian atau peristiwa yang terjadi pada masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat rekaman film, video, film bingkai, foto maupun secara verbal.
e. Obyek yang terlalu kompleks ( misalnya mesin-mesin ) dapat disajikan dengan model, diagram dan lain-lain.
f. Konsep yang terlalu luas ( gunung berapi, gempa bumi, iklim ) dapat divisualkan dalam bentuk film, film bingkai, gambar dan lain-lain.

3. Pengguanaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatsi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini media pendidikan berguna untuk :
a. Menimbulkan kegairahan belajar.
b. Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan.
c. Memungkinkan anak didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya.

4. Dengan sifat unik pada tiap siswa ditambah dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa maka guru banyak mengalami kesulitan bila harus diatasi sendiri. Akan lebih sulit bila latar belakang lingkungan guru dengan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan, yaitu dengan kemampuannya dalam :
a. Memberikan perangsang yang sama
b. Mempersamakan pengalaman
c. Menimbulkan persepsi yang sama


Selengkapnya...

Minggu, 24 Januari 2010

Penasehat Akademik







Selengkapnya...

Template by : kendhin x-template.blogspot.com